Lang

Fenomena Flexing di Media Sosial dalam Kacamata Islam

Fenomena Flexing di Media Sosial dalam Kacamata Islam

Pendahuluan

Di era digital, pamer kekayaan atau yang populer disebut flexing seolah menjadi budaya lumrah. Memamerkan mobil mewah, saldo rekening, hingga outfit mahal di media sosial menjadi cara sebagian orang mencari validasi sosial. Opini Islam memandang fenomena ini dengan sangat kritis.



Flexing: Antara Syukur dan Kesombongan (Takabur)

Banyak yang berdalih bahwa flexing adalah wujud tahadduts bin ni'mah (menyebut nikmat Allah sebagai rasa syukur). Namun, garis antara syukur dan pamer/sombong sangatlah tipis. Kesombongan (takabur) adalah menganggap diri lebih baik dari orang lain, yang sangat dibenci oleh Allah. Flexing sering kali memicu kecemburuan sosial dan menjauhkan empati.


Dalil Larangan Berjalan di Bumi dengan Sombong

Allah melarang manusia untuk membanggakan diri dengan harta maupun kedudukan:


وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا


Artinya: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat menyamai setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37)


Dampak Psikologis Flexing

Pamer harta tidak membawa ketenangan. Pelaku flexing akan terus terjebak dalam rasa haus pujian, sementara penontonnya rentan merasa insecure (tidak percaya diri) dan tidak bersyukur atas rezeki mereka sendiri. Islam mengajarkan zuhud—menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.


Kesimpulan

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya raya. Namun, kekayaan itu sebaiknya digunakan untuk hal yang bermanfaat, seperti sedekah atau membuka lapangan pekerjaan, bukan untuk pamer di media sosial yang justru dapat memicu dosa sombong dan penyakit hati.

Foto Profil Admin

Ditulis oleh Admin

Jurnalis dan Kontributor setia untuk rubrik ini. Terus menyebarkan literasi islami yang mencerahkan bagi umat.