Lang

Pentingnya Menjaga Tradisi Keagamaan Menurut Pandangan Aswaja

Pentingnya Menjaga Tradisi Keagamaan Menurut Pandangan Aswaja

Banyak pertanyaan muncul mengenai hukum menjalankan tradisi keagamaan seperti tahlilan, maulid Nabi, atau ziarah kubur. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), menjaga tradisi yang berisi kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam adalah suatu amalan yang dianjurkan.


Mengakomodasi Budaya dengan Nilai Islam

Aswaja memiliki prinsip "al-muhafazhah 'ala qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah" (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Ulama Aswaja di Nusantara sejak zaman Wali Songo tidak memberantas budaya lokal, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai tauhid dan zikir. Inilah mengapa tradisi keagamaan di Indonesia sangat kaya dan sarat makna spiritual.



Dalil Tentang Melakukan Sunnah (Tradisi) yang Baik

Rasulullah SAW memberikan panduan mengenai inisiatif atau tradisi baik dalam hadis berikut:


مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ


Artinya: "Barangsiapa merintis jalan (sunnah/tradisi) yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim)


Tahlilan dan Ziarah sebagai Syiar

Kegiatan seperti tahlilan sejatinya adalah majelis zikir yang berisi bacaan Al-Qur'an, tasbih, dan doa untuk ahli kubur. Ini adalah bentuk sedekah sosial dan pengingat akan kematian.


Kesimpulan

Tradisi keagamaan dalam Aswaja bukanlah bid'ah yang menyesatkan asalkan substansinya adalah ibadah dan doa. Menjaga tradisi ini berarti kita merawat warisan dakwah para ulama yang telah menyebarkan Islam dengan jalan damai.

Foto Profil Admin

Ditulis oleh Admin

Jurnalis dan Kontributor setia untuk rubrik ini. Terus menyebarkan literasi islami yang mencerahkan bagi umat.